Senin, 22 Oktober 2012


TEORI JURNAL I





1. Faktor likuiditas

Faktor likuiditas merupakan faktor pertama yang mendapat perhatian. Karena kondisi bank bisa sangat dipengaruhi tingkat kepercayaan masyarakat. Sehingga posisi likuiditas sangat perlu dijaga dan dipelihara. Posisi likuiditas dapat melalui rasio-rasio dibawah ini :

  • Reserve Requirement (RR) merupakan salah satu prinsip yang mengatur mengenai ketentuan giro wajib minimum. Berdasarkan Surat Edaran bank Indonesia Nomor 23/17/BPPP tanggal 28 Februari 1992, besarnya RR adalah 2%. Besarnya RR tersebut mengalami beberapa kali perubahan dan sejak tahun 1997 hingga sekarang bearnya RR menjadi 5%. Nilai RR diperoleh dari hasil pembagian antara total likuid dengan total dana pihak ketiga.
  • Non Performing Loan (NPL) merupakan alat ukur mengenai tingkat kredit yang bermasalah. Mulhadi (2005:18), BIS (Bassel International Standar) mengatur mengenai aturan NPL, yaitu 5% yang harus dipenuhi bank-bank sebelum tahun 2001. Semakin besar rasio ini, maka semakin besar tingkat kredit bermasalah. Nilai rasio ini diperoleh dari hasil pembagian kredit bermasalah dengan total kredit yang diberikan.
  • Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK) merupakan salah satu prinsip kehatihatian yang mengatur mengenai batas maksimum pemberian kredit baik kepada pemegang saham maupun kepada masyarakat pada umumnya. Berdasarkan ketentuan Bank Indonesia Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK) yaitu 10 persen untuk pihak terkait dan 20 persen dari modal untuk pihak tidak terkait. Hal ini termaktub dalam pasal 11 ayat 1, 2, 3 dan 4 UU Nomor 10 tahun 1998 mengenai perbankan.


2. Modal

Modal merupakan faktor yang penting bagi bank dalam rangka pengembangan usaha yang sehat dan dapat menampung resiko kerugian. Secara teknis, kewajiban penyediaan modal minimum diukur dengan CAR. Capital adequency Ratio (CAR) merupakan salah satu prinsip yang mengatur mengenai kecukupan modal yang harus ditaati oleh bank. Menurut Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 3/21/2001 tanggal 13 Desember 2001, mewajibkan bank-bank di Indonesia untuk mempertahankan rasio kewajiban penyediaan modal minimum atau CAR sebesar 8%. Nilai CAR diperoleh dari pembagian antara modal bank ddengan aktiva tertimbang menurut resiko.



3. Kualitas Aset

Rentabilitas asset memiliki konsekuensi akan adanya kewajiban bank untuk menyediakan cadangan, sehingga tidak membahayakan eksistansinya (Ketut Rindjin:2000, 127). Dalam penelitian Payamta dan Machfoedz dalam symposium Nasional Akuntansi oleh Aryati dan Manao tahun 2002 dalam Liasari (2006) aspek kualitas aset tidak menggunakan pola yang ditetapkan BI tetapi diproksikan dengan RORA (Return On Risk Asset). RORA merupakan rasio antara laba sebelum pajak dengan risk asset. RORA mengukur kemampuan bank dalam memaksimalkan aktiva yang dimilkinya untuk memperoleh laba.



4. Rentabilitas

Indikator untuk pencapaian rentabilitas atau efisiensi adalah Return On Asset (ROA), Return On Equity (ROE) dan Net Interest Margin (NIM). Menurut Ketut Rindjin (2000,127), “Namun, Bank Indonesia lebih melihat pada ROA, karena ROA mengukur kemampuan bank dalam memperoleh keuntungan melalui pengoptimalkan asset yang dimiliki. “Return On Asset (ROA) merupakan alat ukur mengenai kemampuan dalam menghasilkan laba atau keuntungan. Pengukuran ini adalah melalui asset yang dananya sebagian besar dari masyarakat. ROA diharapkan selalu besar angka rasionya. Nilai rasio ini diperoleh dari hasil bagi antara laba setelah laba sebelum pajak dengan total aktiva. Laba sebelum pajak yang digunakan merupakan aturan dari Bank Indonesia sesuai SE/No.6/DPNP/ tanggal 31 mei 2004.



5. Manajemen

Indikator manajemen mencakup komponen manajemen likuiditas, manajemen kualitas aktiva, manajemen umum, manajemen rentabilitas dan manajemen permodalan. Selain itu berdasarkan ketentuan SK bersama Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia No.52/KMK.017/1999 dan No. 31/11/KEP/GBI tanggal 8 Februari 1999, yang isinya antara lain sebagai berikut. Pertama, ketentuan penilaian pemenuhan fit and proper test dari pemegang saham, dewan komisaris dan direksi BU. Kedua, penilaian terhadap pemegang saham yang memiliki lebih besar dari 25% atau dapat dibuktikan menjadi pemegang saham pengendali berkenaan dengan pemenuhan komitmen tertulis kepada BI, masalah integritas, campur tangan dan dalam operasional bank. (Ketut Rindjin : 2000,128). Dalam penelitian Payamta dan Machfoedz dalam symposium Nasional Akuntansi oleh Aryati dan Manao tahun 2002 dalam Liasari (2006) aspek manajemen tidak menggunakan pola yang ditetapkan BI tetapi diproksikan dengan NPM (Net Profit Margin). NPM merupakan rasio yang menggambarkan tingkat keuntungan (laba) yang diperoleh bank dibandingkan dengan pendapatan yang diterima dari kegiatan operasionalnya.



KERANGKA JURNAL



Dalam penelitian ini yang pertama dilakukan adalah evaluasi kepatuhan Bank Mandiri terhadap peraturan prudential banking yang telah ditetapkan oleh Bank Indonesia terkait standar penilaian yang diterapkan yang didalam penelitian ini diwakilkan oleh substansi dari prudential banking, yaitu CAR, RR, NPL, BMPK, ROA dan NPM yang juga merupakan perhitungan data / variabel. Namun, dalam variabel BMPK tidak dimasukkan dalam pengujian karena data BMPK bertipe string yang hanya berupa pernyataan dalam laporan keuangan.



HIPOTESA JURNAL



Analisis dan Pembahasan Uji Hipotesis

Tabel 1

Uji t



Model
T
Sig.
Keterangan


(Constant)
33,2
0

1
CAR
-4,3
O,oo1
Signifikan

NPL
-2,74
O,o15
Signifikan

Sumber: data diolah 2009



Tabel 2

Uji F



Model
Sum of squares
Df
Mean of Squares
F
Sig.
Regresion
85418
2
42709
25692
.000
Residual
24935
15
1662


Total
110353
17



R Square (R2) = 0,774






Sumber: data diolah 2009



Dari hasil penelitian (dapat dilihat pada lampiran) diketahui nilai koefisien determinasi (r2) sebesar 0,774% artinya 77,4% variabel terikat (Proporsi Penyaluran Kredit) dapat dijelaskan oleh variabel bebas (Capital Adequacy Ratio dan Non Performing Loan), sedangkan sisanya (100% - 77,4% = 22,6%) dijelaskan oleh variabel lain.







TEORI JURNAL II



Koefisien korelasi antara variabel ROI dan dividen kas adalah 0,537 terdapat hubungan yang positif atau searah. Koefisien korelasi antara variabel cash ratio dan dividen kas adalah -0,240 terdapat hubungan yang negatif atau tidak searah. Koefisien korelasi antara variabel current ratio dan dividen kas adalah -0,216 terdapat hubungan yang negatif atau tidak searah. Koefisien korelasi antara variabel EPS dan dividen kas adalah 0,715 terdapat hubungan yang positif atau searah. Koefisien korelasi antara variabel DPR dan dividen kas adalah 0,882 terdapat hubungan yang positif atau searah. Dari analisis di atas diketahui bahwa dividen kas mempunyai hubungan yang positif dengan variabel EPS dan DPR.

Tingkat signifikansi koefisien korelasi yang berada dibawah 0,05 maka korelasi antara variabel- variabel tersebut sangat nyata. Tingkat signifikansi koefisien korelasi ROI terhadap dividen kas adalah 0,022 berarti korelasi antarvariabel tersebut nyata. Tingkat signifikansi koefisien korelasi cash ratio terhadap dividen kas adalah 0,337 berarti korelasi antar variabel tersebut tidak nyata. Tingkat signifikansi koefisien korelasi current ratio terhadap dividen kas adalah 0,390 berarti korelasi antar variabel tersebut tidak nyata. Tingkat signifikansi koefisien korelasi EPS terhadap dividen kas adalah 0,001 berarti korelasi antar variabel tersebut sangat nyata. Tingkat signifikansi koefisien korelasi DPR terhadap dividen kas adalah 0,000 atau mendekati nol berarti korelasi antarvariabel tersebut sangat nyata. Dari analisis di atas disimpulkan variabel yang mempunyai korelasi sangat nyata, yaitu EPS dan DPR. Dari pengolahan data tersebut dapat disimpulkan bahwaDari pengolahan terhadap data diketahui bahwa Terdapat hubungan yang negatif antara Return on Investment, cash ratio, dan current ratio dengan dividen kas.

Terdapat hubungan yang positif antara Earning Per Share dan Dividend Payout Ratio dengan dividen kas.

Sehingga hipotesis 1(H1) : ada hubungan antara Return On Investment, Cash Ratio, Current Ratio, Earning per Share, dan Dividend Payout Ratio dengan Cash Dividend dapat diterima.



KERANGKA JURNAL



Secara parsial, masing-masing variabel bebas mempengaruhi variabel terikat tidak secara bersama-sama, sehingga menghasilkan rumusan sebagai berikut:


Y = a + b1 x1 + b2 x2 + b3 x3 + b4 x4 + b5 x5

Dimana bila terjadi kenaikan ROI maka dividen kas akan mengalami kenaikan. Bila terjadi kenaikan cash ratio maka akan terjadi kenaikan dividen kas. Demikian juga dengan current ratio, Earning Per Share, dan Dividend Payout Ratio bila mengalami kenaikan akan menaikan dividen kas. Berdasarkan kerangka pemikiran tersebut, penulis dapat menyusun hipotesis sebagai berikut:

H1 : “Ada hubungan antara Return On Investment, Cash Ratio, Current Ratio, Earning per Share, dan Dividend Payout Ratio dengan Cash Dividend

H2 : “Ada pengaruh yang signifikan antara Return On Investment, Cash Ratio, Current Ratio, Earning per Share, dan Dividend Payout Ratio terhadap Cash Dividend”







HIPOTESA



a. Analisis Regresi Berganda

Data F hitung



F hitung
signifikan / alfa
51,376
0



Data di atas menunjukan kelima faktor (Variabel bebas) secara bersama-sama berpengaruh sangat signifikan terhadap dividen kas. Karena nilai signifikan F = 0.000 kurang dari nilai α, yaitu 0.050 (5%).



Data konstanta dan koefisien regresi



Variabel
Instandardized Koefisien
bas
Beta
constanta
40,132
ROI
632
cash ratio
274
Current ratio
283
EPS
19
DPR
563



Rumus regresi berganda



Y = -440,132 + 51,632 x1 – 8,274 x2 + 0,283 x3 + 0,190 x4 + 28,563 x5



Nilai konstanta sebesar -440,132 berarti apabila Y = 0, dividen kas akan sebesar - 440,132. Apabila ROI naik sebesar 1 mengakibatkan kenaikan variabel dividen kas (Y) yang dibayarkan sebesar 54,632. Bila terjadi kenaikan cash ratio sebesar 1 mengakibatkan penurunan variabel dividen (Y) sebesar 8,274. bila terjadi kenaikan current ratio sebesar 1 maka akan terjadi kenaikan dividen sebesar 0,283. begitu juga bila terjadi kenaikan EPS dan DPR sebesar 1 maka akan terjadi kenaikan dividen sebesar 0,190 dan 28,563. Dari rumus tersebut diketahui bahwa cash ratio berpengaruh negatif terhadap dividen kas (bila terjadi kenaikan cash ratio maka akan diikuti penurunan dividen kas) ini berarti rumus awal yang menyatakan cash ratio berpengaruh positif terhadap dividen kas tidak tepat.



Determinasi (R2)



model
R
R Square
Adjusted R square
1
0,977
0,955
0,937



terikat lebih dari 2 variabel. Nilai adjusted R square adalah sebesar 0,955 atau 95%, artinya variabel ROI, Cash ratio, Current Ratio, EPS, dan DPR dapat menjelaskan perubahan tingkat perubahan dividen kas sebesar 95%, sedangkan 5% dijelaskan oleh variabel lain.

b. Uji F

Hipotesis:

Ho : tidak ada pengaruh antara DPR, EPS, ROI, Cash Ratio dan Current Ratio terhadap Dividen Kas

Ha : ada pengaruh antara DPR, EPS, ROI, Cash Ratio dan Current Ratio terhadap Dividen Kas.



F hitung
signifikan / alfa
51,376
0



Dari data di atas diketahui bahwa F hitung sebesar 51,376 dan signifikan sebesar 0,000 (sig F < 0,05), dapat disimpulkan karena nilai signifikan F dalam perhitungan kurang dari 0,05, maka ho ditolak ini berarti ada pengaruh yang signifikan antara DPR, EPS, ROI, Cash Ratio dan Current Ratio terhadap Cash dividend.

  1. Uji T



Variabel
t hitung
Signifikan
ROI
1,746
0,106
cash ratio
-1,663
0,122
Current ratio
0,608
0,554
EPS
3,63
0,003
DPR
8,281
0






    Berdasarkan data di atas diketahui bahwa terdapat dua variabel bebas yang mempengaruhi variabel terikat dengan signifikan kurang dari 5%. Variabel tersebut adalah EPS dengan signifikan 0,003 dan DPR dengan signifikan sebesar 0,000. Dari kedua variabel tersebut diketahui bahwa variabel DPR yang berpengaruh paling besar hal ini dilihat dari nilai t hitung yang terbesar, yaitu sebesar 8,281. Jadi, H2 : Ada pengaruh yang signifikan antara Return On Investment, Cash Ratio, Current Ratio, Earning per Share, dan Dividend Payout Ratio terhadap Cash Dividend tidak dapat diterima (H2 ditolak).




Jumat, 19 Oktober 2012


Kasus anjlok nya KA Commuter line



Kenaikan harga tiket KA Prameks, dari Rp 7.000 menjadi Rp 8.000 berkaitan dengan tingginya biaya operasional dan perawatan, juga untuk meningkatkan pendapatan.

"Kenaikan harga tiket tentu diimbangi dengan peningkatan pelayanan, misalnya lebih tepat waktu. Ada semacam tanggung jawab lebih dari kami," ujar Eko Budiyanto, Kepala Humas PT KA Daerah Operasi VI . Contohnya adalah kasus kecelakaan anjloknya krl commutterline di cilebut, bogor. Jakarta Kemenhub mengendus sejumlah kejanggalan dalam anjloknya kereta rel listrik (KRL) Commuter Line jurusan Bogor-Jakarta di Stasiun Cilebut, Bogor, Jabar. Apakah ada sabotase di balik kecelakaan tersebut?
"Memang ada hal-hal yang janggal dalam musibah itu, terkait prasarana. Tapi kami belum bisa menyampaikan apa itu, karena penyelidikan masih dilakukan," ujar Kepala Puskom Publik Kementerian Perhubungan, Bambang S Ervan, saat dihubungi detikcom, Kamis (4/10/2012).

Aktivis KRL Mania, Nurcahyo, meminta pemerintah terbuka dalam menjelaskan penyebab kecelakaan tersebut, apakah karena sabotase atau murni musibah. "Perlu evaluasi dan penyelidikan menyeluruh. PT KAI harus menjelaskan ini penyebabnya apa, apakah ada sabotase atau kekalalaian agar tidak terulang lagi," harapnya.

Ketimbang berspekulasi, Kemenhub lebih memilih menyerahkan penyelidikan musibah itu ke pihak-pihak yang berwenang. "Biar diinvestigasi. Saya tidak mau berspekulasi, ini sabotase atau murni kecelakaan," ucap Bambang.

Menurutnya, Ditjen Keselamatan Kereta Api bersama dengan PT KAI akan turun bersama melakukan penyelidikan. Jika diperlukan, polisi akan digandeng untuk membantu penyelidikan.

"Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) dari PT KA saat ini juga sudah di lokasi untuk melakukan investigasi," imbuh Bambang.

Dia menjelaskan rel di sekitar Stasiun Cilebut tidak ada yang rusak akibat kecelakaan KRL tersebut. Apalagi selama ini rel dirawat dan dijaga. Dibutuhkan waktu sekitar 8 jam untuk mengevakuasi KRL nahas itu.

"Karena harus menggeser listrik aliran atas untuk mengangkat KRL dan karena peron rusak. Kereta naik di atas peron jadi perlu waktu," terang Bambang


Senin, 08 Oktober 2012

JURNAL I
 
 
Tema : PENGARUH KEMAJUAN PERKEMBANGAN TEKNOLOGI
Penulis Jurnal : Della Natalia dan Iman Murtono Soenhadji, Ph.D
Judul Jurnal : PENGARUH GAYA HIDUP, PSIKOGRAFIS, LINGKUNGAN SOSIAL DAN FISIK TERHADAP KEPUTUSAN PENGGUNAAN HANDPHONE BERTEKNOLOGI 3G
Tahun Penerbitan : 2012
Dianalisi Oleh : Syifa Fauziah
NPM : 16210800

LATAR BELAKANG

Penelitian ini ingin mengetahui pengaruh faktor gaya hidup, faktor psikografis, dan faktor pengaruh lingkungan sosial dan fisik terhadap perilaku konsumen dalam pengambilan keputusan penggunaan handphone berteknologi 3G, dan mengetahui pengaruh paling dominan dari faktor gaya hidup, faktor psikografis, dan faktor pengaruh lingkungan sosial dan fisik terhadap pengambilan keputusan penggunaan handphone teknologi 3G. Memahami perilaku konsumen meliputi perilaku yang dapat diamati seperti jumlah yang dibelanjakan, kapan, dengan siapa, oleh siapa, dan bagaimana barang yang sudah dibeli dikonsumsi. Juga termasuk variabel-variabel yang tidak dapat diamati seperti nilai-nilai yang tidak dimiliki oleh konsumen, kebutuhan pribadi, persepsi, bagaimana mereka mengevaluasi alternatif dan apa yang mereka rasakan tentang kepemilikan dan penggunaan produk yang bermacam-macam.
MOTIVASI

Dalam persaingan yang kian ketat dengan semakin mudahnya fasilitas 3G didapat, produsen harus dapat memahami pengaruh faktor-faktor tersebut agar berhasil dalam pemasaran dan menjual sesuai kebutuhan dan keinginan konsumen. kebutuhan akan informasi yang cepat, tepat dan sesuai dengan perkembangan zaman sangat dibutuhkan sehingga tidak ketinggalan zaman. Di Indonesia yang merupakan negara berkembang, kebutuhan informasi akan sangat tinggi (Sujoko, 2007). Banyak cara yang bisa dilakukan untuk memperoleh informasi tersebut, diantaranya dengan menggunakan teknologi yang bernama internet. Kemajuan dalam dunia telekomunikasi pun juga semakin pesat. Tentunya guna mendapat informasi yang tepat dan akurat dibutuhkan tidak hanya sekedar membaca, namun juga berkomunikasi. Dengan bertambah pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, diperkenalkanlah suatu bentuk teknologi baru yang dipopulerkan dengan nama ‘3G’ (Third Generation). 3G adalah salah satu teknologi yang menggabungkan antara dunia komunikasi dan internet. Fasilitas ini mulai banyak dimanfaatkan dalam berbagai bidang, misalnya dalam bidang komunikasi. Banyaknya alat komunikasi yang dilengkapi dengan fasilitas 3G memberikan keuntungan tersendiri bagi pemakainya. Dalam proses pengambilan keputusan untuk menggunakan handphone berteknologi 3G, konsumen dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya bauran pemasaran, individu konsumen, dan pengaruh lingkungan. Menurut Engel, Blackwell, dan Miniard (1994) proses keputusan dipengaruhi oleh perbedaan individu, proses psikologis, pengaruh lingkungan dan strategi pemasaran. Dalam persaingan yang kian ketat dengan semakin mudahnya fasilitas 3G didapat, produsen harus dapat memahami faktor-faktor tersebut agar berhasil dalam pemasaran dan menjual sesuai kebutuhan dan keinginan konsumen.

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini merupakan metode penelitian survey yaitu suatu penelitian yang mengambil sampel dari suatu populasi dengan mengandalkan kuesioner sebagai instrumen pengumpulan data. Dengan demikian penelitian ini dikategorikan sebagai explanatory research, yaitu penelitian yang menjelaskan hubungan kausal antara variabel-variabel penelitian melalui pengujian hipotesis (Singarimbun, 1995). Variabel penelitian meliputi variabel dependen (Y) yaitu keputusan konsumen menggunakan handphone berteknologi 3G dan variabel independen (X) adalah faktor-faktor perilaku konsumen (faktor gaya hidup, faktor psikografis, dan faktor lingkungan social dan fisik). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa pemakai teknologi 3G bagi pengguna Indosat di Kampus Universitas Gunadarma. Penelitian ini adalah penelitian primer dan bersifat kualitatif dengan menyebarkan kuesioner. Penelitian ini jumlah populasinya tidak bisa diketahui secara pasti, maka berdasarkan Malhotra (1999), untuk menentukan jumlah sampel dapat ditentukan yaitu minimum 4 atau 5 kali jumlah variabel yang digunakan. Kuesioner yang telah disebar berjumlah 200 kuesioner, dan yang kembali berjumlah 120 kuesioner. Jumlah responden yang diambil sebanyak 120 orang mahasiswa. Instrumen penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah kuisioner. Skala yang digunakan adalah skala interval, pengukuran skala menggunakan tipe likert yang pendekatan ratingnya 1 sampai 5 yang menunjukkan derajat. Derajat 1 menunjukkan kurang setuju hingga 5, sangat setuju. Sebelum digunakan sebagai instrumen penelitian, kuesioner divalidasi dan diuji reliabilitasnya. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan uji t dua sampel bebas dan analisis faktor. Kekuatan pengaruh diukur menggunakan metode statistik regresi berganda. Gender di ukur dengan menggunakan analisis diskriminan.

PEMBAHASAN

Hasil uji validitas instrumen penelitian menunjukkan bahwa semua item penelitian adalah valid. Hal ini dapat diketahui dari signifikansi hasil perhitungan korelasi lebih kecil dari 0,05. Hasil pengujian reliabilitas instrumen penelitian, menunjukkan bahwa semua penelitian adalah reliabel. Hal ini dapat diketahui bahwa semua variable penelitian ini mempunyai koefisien keandalan/alpha sama atau lebih besar dari 0.6. Dalam pengolahan data dengan menggunakan regresi linier berganda, dilakukan beberapa tahapan untuk mencapai hubungan antar variabel dependen dengan variabel independen. Pada signifikansi 0.05 dengan uji 2 sisi dan jumlah data (n) = 120, didapat r tabel sebesar 0.192. Jika r lebih besar dari r tabel,maka butir item (instrumen) tersebut valid (Priyatno, 2008). Pada hasil statistik dapat dilihat bahwa semua butir item (instrumen) nilainya lebih besar dari 0,192. Ini berarti semua butir item (instrumen) adalah valid. Uji signifikansi dilakukan pada taraf signifikansi 0.05, artinya instrumen dapat dikatakan reliabel bila nilai alpha lebih besar dari r kritis product moment (Priyatno, 2008), atau dengan menggunakan batasan tertentu. Menurut Sekaran (1992) reliabilitas kurang dari 0.6 adalah kurang baik, sedangkan 0.7 dapat diterima, dan di atas 0.8 adalah baik. Nilai reliabilitas sebesar 0.894 menjelaskan bahwa butir item (instrumen) adalah baik atau dapat dipercaya.

HASIL KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang dilakukan berdasarkan data yang dikumpulkan, maka dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu, faktor Psikografis mempengaruhi langsung keputusan penggunaan handphone berteknIIologi 3G. Faktor Lingkungan sosial dan fisik tidak mempengaruhi secara langsung keputusan penggunaan handphone berteknologi 3G. Bahwa gaya hidup mempunyai pengaruh yang paling dominan terhadap keputusan penggunaan handphone berteknologi 3G (Y). Hal ini dapat dilihat dari tingkat signifikansi pada uji T yang menunjukkan variabel gaya hidup memiliki tingkat signifikan yang paling kecil (0,000). Ternyata keputusan penggunaan handphone berteknologi 3G (Y) dipengaruhi secara bersama-sama oleh faktor gaya hidup, psikografis, lingkungan sosial dan fisik. Hal ini ditunjukkan oleh Fhitung = 17,859 lebih besar dari Ftabel = 2,6828. Ternyata jenis kelamin (gender) bisa menjadi prediktor dalam pengambilan keputusan untuk menggunakan handphone berteknologi 3G. Sehubungan dengan penelitian ini hanya memperhatikan tiga faktor yang mempengaruhi keputusan penggunaan handphone berteknologi 3G, maka sangat perlu dilaksanakan penelitian lebih lanjut untuk melibatkan lebih banyak faktor-faktor yang mempengaruhi konsumen dalam menggunakan handphone berteknologi 3G, sehingga dapat diketahui efektivitas faktor-faktor tersebut terhadap keputusan penggunaan.
 
 
 
JURNAL II
 
 

Tema : KEPUASAN KONSUMEN TERHADAP PRODUK MINUMAN “TEH BOTOL SOSRO”
Penulis Jurnal : Mashadi
Judul Jurnal : PENGARUH MOTIVASI, PERSEPSI, SIKAP DAN PEMBELAJARAN KONSUMEN TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN MINUMAN KEMASAN MEREK “TEH BOTOL SOSRO” DI KAWASAN DEPOK
Tahun Penerbitan : 2012
Dianalisi Oleh : Syifa Fauziah
NPM : 16210800

LATAR BELAKANG

Penelitian ini berdasarkan fakta yang Sosro” dimunculkan. Slogan ini tidak saja mengguncang sesama produk teh namun juga produk minuman secara keseluruhan. Keunikan dapat dilihat dari metode pemasaran Teh Botol Sosro adalah pada kekakuan dari produk itu sendiri. Semenjak diluncurkan pada
tahun 1970, produk Teh Botol Sosro baik rasa, kemasan, logo maupun penampilan tidak mengalami perubahan sama sekali, bahkan ketika perusahaan multinational Pepsi dan Coca-cola masuk melalui produk teh Tekita dan Frestea, Sosro tetap tidak bergeming. Bertahannya produk minuman kemasan “Teh Botol Sosro" hingga saat ini, menunjukkan bahwa produk tersebut mempunyai keunikan tersendiri sehingga tetap diminati konsumen. Hal inilah yang memicu penulis ingin mengetahui apa yang memengaruhi konsumen Teh Botol Sosro tetap memutuskan membeli Teh Botol Sosro, yang terutama yang berasal dari dalam diri konsumen itu sendiri ditengah banyaknya tawaran produk-produk baru dengan aneka rasa dan kemasan yang unik-unik. Faktor-faktor perilaku konsumen tersebut diantaranya dapat diuraikan pada faktor psikologis, meliputi: motivasi, persepsi, pembelajaran dan sikap konsumen dalam melakukan pengambilan keputusan pembelian. Dengan semakin tingginya kebutuhan masyarakat terhadap minuman dalam kemasan dan meningkatnya persaingan untuk merebut konsumen maka penulis tertarik untuk meneliti "Pengaruh Motivasi, Persepsi, Sikap dan Pembelajaran Konsumen terhadap Keputusan Pembelian minuman kemasan merek “Teh Botol Sosro" di kawasan Depok”. Berdasarkan latar belakang di atas, penulis membuat rumusan masalah sebagai berikut: Motivasi, persepsi, sikap dan pembelajaran konsumen dapat memberi pengaruh kepada konsumen dalam pengambilan keputusan pembelian minuman kemasan merek “Teh Botol Sosro" di Kawasan Depok. Perbedaan antara pendapat dengan harapan konsumen dapat terjadi dalam pengambilan keputusan pembelian minuman kemasan merek “Teh Botol Sosro" di Kawasan Depok.

MOTIVASI

Tidak banyak produk Indonesia yang begitu membanggakan dan mampu eksis ditengah gempuran produk asing di tengah persaingan usaha saat ini. Salah satu produk membanggakan itu adalah Teh Botol Sosro. Bertahannya produk minuman kemasan “Teh Botol Sosro" hingga saat ini, menunjukkan bahwa produk tersebut mempunyai keunikan tersendiri sehingga tetap diminati konsumen.Dalam kompetisi global seperti dewasa ini, konsumen cenderung untuk mempunyai lebih banyak keinginan. Selera konsumen terhadap minuman dalam kemasan juga ikut berkembang. Minuman sekarang tidak sekedar memenuhi kebutuhan fisiologis semata, tapi telah berkembang jauh dengan munculnya minuman-minuman kemasan, seperti Coca-cola, Aqua, Teh Botoh Sosro, dan lain sebagainya adalah untuk memenuhi selera konsumen. Menurut Kotler (2002) dalam meningkatkan persaingan masing-masing perusahaan harus dapat memenangkan persaingan tersebut dengan menampilkan produk yang terbaik dan dapat memenuhi selera konsumen yang selalu berkembang dan berubah-ubah. Pada masa-masa awal peluncurannya, Teh Botol Sosro tidak banyak dilirik oleh konsumen, tapi kemudian perlahan tapi pasti produk Teh Botol Sosro mulai mendapatkan tempat di hati konsumen Indonesia. Terlebih ketika slogan “Apapun makannya, minumnya Teh Botol Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah serta karakteristik obyek yang diteliti dapat diklasifikasikan sebagai penelitian deskriptif. Penelitian ini berdasarkan fakta yang Sosro” dimunculkan. Slogan ini tidak saja mengguncang sesama produk teh namun juga produk minuman secara keseluruhan.

METODOLOGI PENELITIAN

Jenis data yang digunakan adalah data interval, dinyatakan dalam angka mulai dari skala terkecil sampai dengan yang terbesar, selain itu mempunyai jarak yang sama antara angka yang satu dengan angka yang lainnya (1= sangat tidak setuju, 2 = tidak setuju, 3 = netral, 4 = setuju, 5 = sangat setuju). Sedangkan sumber data yang digunakan adalah bersifat primer. Data diperoleh melalui kuesioner yang disebarkan kepada responden di Kawasan Depok yang terdiri dari enam kecamatan yaitu Pancoran Mas, Beji, Sukmajaya, Cimanggis,Sawangan, dan Limo.

PEMBAHASAN
Dari pengujian validitas dan reliabilitas variabel dapat diketahui bahwa nilai alpha positif dan lebih besar dari nilai kritis r product moment pada signifikansi 0,05 dengan nilai r tabel = 0.1843. Berikut adalah hasil uji validitas yang dilakukan secara pervariabel dengan jumlah sampel sebanyak 50 responden. Hasilnya adalah variabel motivasi ada empat pertanyaan valid dari empat pertanyaan, variabel persepsi ada tiga pertanyaan valid dari empat pertanyaan, variabel sikap ada empat pertanyaan valid dari empat pertanyaan, variabel pembelajaran ada tiga pertanyaan valid dari empat pertanyaan, keputusan pembelian ada tiga pertanyaan valid dari empat pertanyaan. Sedangkan dalam uji reliabitas hasilnya koefisien conbach alpha lebih besar dari nilai r tabel, artinya masing-masing variabel tidak ada yang tidak reliable dan dapat digunakan untuk analisis selanjutnya.

 

HASIL KESIMPULAN

Dari hasil pembahasan maka dapat ditarik kesimpulan yaitu,
  1. Ada pengaruh yang signifikan dari motivasi, persepsi, sikap dan pembelajaran konsumen terhadap keputusan pembelian minuman kemasan merek Teh Botol Sosro di Kawasan Depok.
  2. Ada perbedaan yang nyata antara pendapat dan harapan konsumen tentang keputusan pembelian. Artinya apa yang telah konsumen nikmati saat ini masih ada jarak dengan kondisi yang konsumen harapkan, dan ini menjadi pekerjaan rumah bagi produsen untuk memenuhi harapan dari konsumen.

SARAN

Bagi pengusaha atau produsen minuman merek Teh Botol Sosro harus selalu memperhatikan perilaku konsumen yang setiap saat akan berubah-ubah. Untuk mempertahankan posisi di pasar, harus selalu melakukan market research terhadap produk pesaing yang beredar di pasar dan harga yang ada. Menurut Muhammad (2004) dalam mengantisipasi kondisi pasar dapat menggunakan growth strategy yaitu mengembangkan pasar yang telah dimiliki jika pangsa pasar yang ada masih luas. Hal yang harus mejadi perhatian adalah kepuasan konsumen pada pasca pengambilan keputusan untuk membeli produk yang kita tawarkan.


Senin, 01 Oktober 2012

analisis jurnal

JURNAL I


Tema : PENGARUH PROPORSI PENYALURAN KREDIT DALAM BANK

Penulis jurnal : Johnshyn P.

Judul Jurnal : ANALISIS PENGARUH PRINSIP PRUDENTIAL BANKING TERHADAP PROPORSI PENYALURAN KREDIT PADA BANK MANDIRI (Persero) Tbk

Tahun penerbitan : 22-May-2012

Di analisis Oleh : Syifa Fauziah
NPM : 162100800


MASALAH & MOTIVASI JUNAL

Di tengah tantangan yang tidak ringan sebagai akibat dari krisis keuangan global yang berawal dari kegagalan sistem perbankan di Amerika Serikat. Seperti yang diungkapkan Gandung Troy, Ketua Harian Badan Sertifikasi Manajemen Resiko (BSMR) “bank-bank besar di Amerika Serikat terpuruk akibat dilanggarnya prinsip kehati-hatian bank dalam menjalankan bisnis”. Kendati begitu, Gandung optimistis perbankan nasional tidak akan mengalami hal sama dengan perbankan di ‘Negeri Paman Sam’. Pasalnya, kesadaran dan ketaatan bank dalam melaksanakan manajemen risiko saat ini sudah sangat baik. Bankir sangat peduli dan mau menerapkan kehati-hatian dalam menjalankan bisnis sesuai dengan prinsip dasar manajemen risiko (Media Indonesia, 11 Desember 2008). Menurut H. Gunawan, Indonesia memang merupakan negara yang terkena dampak krisis keuangan paling ringan. Tapi, itu bukan berarti negeri ini sekarang sudah aman benar.Penyaluran kredit merupakan kegiatan usaha yang mendominasi pengalokasian dana bank. Penggunaan dana untuk penyaluran kredit ini mencapai 70%-80% dari volume usaha bank. Di dalam rangka penyaluran kredit kepada perusahaan-perusahaan dan masyarakat untuk kepentingan pembiayaan, maka setiap bank diwajibkan untuk melaksanakan prinsip kehati-hatian (prudential principles) dalam menyalurkan kredit-kreditnya. Hal ini didasarkan, karena risiko yang sangat tinggi dalam melakukan pemberian kredit sebagai usaha utama bank.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kepatuhan Bank Mandiri terhadap peraturan yang berlaku bagi bisnis perbankan, yaitu peraturan prudential banking yang telah ditetapkan oleh Bank Indonesia untuk mengetahui pengaruh substansi Prinsip Prudential Banking yang diwakilkan oleh rasio CAR, RR, NPL, ROA dan NPM baik secara parsial maupun secara simultan terhadap pengalokasian dana bank untuk penyaluran kredit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bank Mandiri belum mematuhi peraturan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia, hal ini terlihat dari sebagian dari substansi yang diteliti belum memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. Dan dari hasil uji regresi dapat disimpukan bahwa substansi prudential banking yang meliputi CAR dan NPL berpengaruh secara simultan terhadap proporsi penyaluran kredit, dibuktikan dari hasil Uji-F, dimana F Hitung sebesar 25,692 yang lebih besar dari F Tabel sebesar 3,68. Dan rasio CAR dan NPL berpengaruh secara partial dan signifikan terhadap PPK, dibultikan dengan penolakan tingkat signifikan pada taraf signifikan 5%.

METODOLOGI PENELITIAN

Objek penelitian pada penulisan skripsi ini adalah Bank Mandiri yang bergerak di bidang investment banking, perbankan syariah serta bank assurance, Bank Mandiri menyediakan solusi keuangan yang menyeluruh bagi perusahaan swasta maupun milik Negara, komersiil, usaha kecil dan mikro serta nasabah konsumer. Data yang digunakan untuk menguji hipotesis adalah data sekunder yang diperoleh dari www.BI.go.id. Data berupa laporan keuangan publikasi bulanan periode januari 2008 sampai dengan juni 2009. Alat yang digunakan untuk menguji hipotesisi adalah uji regresi linear berganda untuk melihat pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen.


PEMBAHASAN

Pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR) Terhadap PPK Modal banyak digunakan bank untuk memperbaiki kualitas aktiva produktif yang dimiliki, seperti kredit yang diberikan, penempatan pada bank lain (call money,deposito berjangka, dll) atau surat-surat berharga (SBI,SBPU, dll). Hubungan negatif yang terjadi menunjukkan bahwa penurunan CAR akan meningkatkan proporsi penyaluran kredit, jika kondisi dalam suatu bank terjadi peningkatan penyaluran kredit maka NPL akan meningkat yang tidak diikuti dengan peningkatan perolehan pendapatan. Hal ini menyebabkan modal berkurang maka sumber dana yang akan disalurkan kembali kepada masyarakat akan berkurang. Atau kenaikan CAR akan menyebabkan penurunan pada proporsi penyaluran kredit, hal ini menujukkan kecenderungan bank untuk menempatkan modalnya pada aktiva produktif yang lain seperti call money, SBI, SBPU dll.Pengaruh Non Performing Loan (NPL) terhadap PPK Semakin tinggi nilai NPL menunjukkan semakin besar tingkat kredit bermasalah. Semakin besar kredit bermasalah yang terjadi akan menyebabkan penurunan tingkat penyaluran kredit atau sebaliknya penurunan tingkat kredit bermasalah akan meningkatkan tingkat kredit yang disalurkan. Namun dari hasil perhitungan rasio selama periode januari 2008 sampai dengan 2009 peningkatan kredit bermasalah diikuti pula dengan peningkatan kredit yang disalurkan.Pengaruh RR, ROA dan NPM terhadap PPK RR merupakan rasio antara total alat likuid dengan total dana pihak ketiga. RR

menunjukkan simpanan minimum yang harus dipelihara oleh bank dalam bentuk saldo rekening giro pada Bank Indonesia. Semakin besar rasio ini menunjukkan semakin besar dana yang digunakan bank untuk membentuk alat likuid. Berdasarkan ketetapan Bank Indonesia GWM yang wajib dibentuk adalah sebesar 5% tetapi bank akan mempertahankan cadangan likuiditas lebih besar dari GWM BI untuk mengantisipasi penarikan besar-besaran (rush) oleh nasabah. RR berkaitan dengan pembentukkan cadangan wajib minimum pada Bank Indonesia dalam bentuk alat likuid (kas dan giro pada BI) sehingga RR tidak memiliki pengaruh terhadap kemampuan bank dalam menyalurkan kredit.

 

KESIMPULAN

maka peneliti menarik beberapa kesimpulan antara lain :

  1. Pada evaluasi kepatuhan Bank Mandiri terhadap peraturan prudential banking yang telah ditetapkan oleh Bank Indonesia terkait standar penilaian yang diterapkan, dimana dalam penelitian ini prudential banking diwakilkan oleh substansinya yang meliputi rasio CAR, RR, NPL, ROA dan NPM. Dari hasil penelitian rasio CAR, RR, dan NPM telah memenuhi standar yang ada sedangkan rasio NPL dan ROA belum memenuhi standar yang ditetapkan. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan Bank Mandiri belum mematuhi peraturan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.
  2. Berdasarkan hasil pengolahan data diketahui bahwa data penelitian meliputi nilai rasio CAR dan NPL berpengaruh secara simultan dan signifikan terhadap Proporsi Penyaluran Kredit. Hal ini dibuktikan dari hasil Uji-F, dimana F Hitung sebesar 25,692 yang lebih besar dari F Tabel sebesar 3,68. Dan secara partial rasio CAR yang mewakili faktor permodalan dan NPL yang mewakili faktor likuiditas berpengaruh terhadap proporsi penyaluran kredit pada Bank Mandiri dibuktikan dengan penolakan tingkat signifikan pada taraf signifikan 5%.
SARAN

Peneliti menyarankan beberapa hal yang berkaitan dengan kelemahan yang terdapat dalam hasil perhitungan dan pembahasan, antara lain :

  1. Sebaiknya Bank Mandiri terus berusaha memperbaiki kinerja dan mematuhi peraturan perbankan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia, yaitu tetap menjaga angka rasiorasio yang menjadi indikator dalam substansi prinsip prudential banking terutama berkaitan dengan Return On Asset dan Non Performing Loan.
  2. Sebaiknya Bank Mandiri selalu memperhatikan hal-hal yang menentukan keputusan untuk menaikkan volume kredit. Hal-hal tersebut seperti rasio CAR dan NPL yang telah terbukti memilki pengaruh baik secara parsial maupun secara simultan dan signifikan terhadap Proporsi Penyaluran Kredit.
  3. Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan terhadap variabel yang lebih luas mengingat variabel bebas yang digunakan pada penelitian ini hanya terfokus kepada rasio CAMEL/Prudential saja.
 
JURNAL II


Tema : PENGAMATAN TENTANG KEPUASAN PELANGGAN

Penulis Jurnal : Diah Natalisa

Judul Jurnal : Survey Kepuasan Pelanggan Program Studi Magister Manajemen Universitas Sriwijaya

Tahun Penerbitan : 09 Juni 2007

Dianalisi oleh : Syifa Fauziah

NPM : 16210800


MOTIVASI & MASALAH JURNAL

Dalam kondisi yang sangat cepat mengalami perubahan, maka setia organisasi perlu bertindak adaptif sebagai konsekuensi atas perubahan lingkungan internal maupun eksternal yang terjadi dengan orientasi untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada pelanggan. Berbagai macam upaya yang dilakukan Program Studi Magister Manajemen Universitas Sriwijaya adalah upaya untuk meningkatkan pelayanan dan kemudahan kepada pelanggan dengan membangun fasilitas dan infrastrukturnya maupun program-program kurikulumnya. Dengan menempatkan unsur kualitas pelayanan pelanggan sebagai faktor indicator penting, maka hal tersebut dapat meningkatkan kinerja dan daya saing Program Studi MM Unsri di tengah semakin gencarnya tingkat kompetisi yang terjadi saat ini.

 

Tujuan Penelitian

Tujuan yang diharapkan dalam penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui besarnya kesenjangan antara Kepentingan dan Kepuasan Mahasiswa terhadap Kualitas Layanan yang diberikan Program Studi Magister Manajemen.

2. Untuk mengetahui Variabel Kualitas Layanan yang perlu ditingkatkan terhadap Kualitas Pelayanan di Program Studi Magister Manajemen.

3. Mengetahui tingkat Kepuasan Pelanggan dan/atau Ketidakpuasan Pelanggan sebagai salah satu pengukuran performance dari Sistem Manajemen Mutu yang ada di Program Studi MM UNSRI.


Metodologi

Penelitian ini merupakan suatu penelitian deskriptif dan observasional. Populasi penelitian ini adalah seluruh Mahasiswa Program Studi Magister Manajemen Universitas Sriwijaya. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan convinience Sampling dengan jumlah sampel yang telah diperoleh sebanyak 26 responden. Variabel yang diteliti dalam penelitian ini adalah: Variabel kepentingan/ekspektasi(X1) dan kepuasan/kinerja(X2) terhadap Program Studi Magister Manajemen Universitas Sriwijaya(Y) dengan menggunakan Gap Analysis dan Diagram Cartesius pada program apkikasi SPSS versi 13.0.



Hasil Penelitian

Implikasi dari hasil Diagram Cartesius ini adalah Program Studi perlu meningkatkan kinerja dan

pelayanan karena dimensi ini berada dibawah ekspektasi dan harapan Mahasiswa, dan mempertahankan kinerja dan keinginan konsumen yang tinggi karena Program Studi telah menunjukkan kualitas pelayanan yang memuaskan sesuai dengan kepentingan dan ekspektasi yang diharapkan oleh Mahasiswa. Program Studi perlu mempertimbangkan dimensi mana yang perlu ditingkatkan dan dimensi mana perlu dipertahankan agar dapat memberikan kinerja yang optimal demi meningkatkan efisiensi sumber daya organisasi yang diharapkan.

KESIMPULAN

Implikasi dari hasil Diagram Cartesius ini adalah Program Studi perlu meningkatkan kinerja dan pelayanan pada Dimensi A karena dimensi ini berada dibawah ekspektasi dan harapan Mahasiswa, dan mempertahankan Dimensi B karena Program Studi telah menunjukkan kualitas pelayanan yang memuaskan sesuai dengan kepentingan dan ekspektasi yang diharapkan oleh Mahasiswa. Program Studi perlu mempertimbangkan dimensi mana yang perlu ditingkatkan dan dimensi mana perlu dipertahankan agar dapat memberikan kinerja yang optimal demi meningkatkan efisiensi sumber daya organisasi yang diharapkan.


JURNAL III

Tema : Pengaruh Dividen Kas pada Perusahaan Makanan dan Minuman

Penulis Jurnal : Engela Vianita dan Izzati Amperaningrum

Judul Jurnal : ANALISIS FAKTOR YANG MEMPENGARUHI DIVIDEN KAS PADA PERUSAHAAN MAKANAN DAN MINUMAN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA

Tahun Penerbitan : 21 MEI 2012

Dianalisi oleh : Syifa Fauziah

NPM : 16210800



MOTIVASI & MASALAH JURNAL

Dividen kas merupakan masalah yang sering kali menjadi topik pembicaraan yang hangat di antara para pemegang saham dan juga pihak manajemen perusahaan emiten, bahkan cenderung terjadi kontroversi antara pemegang saham dan perusahaan emiten. Kontroversi yang terjadi antara pendapat bahwa kebijakan dividen tidak mempengaruhi nilai perusahaan, sedangkan argumen lain menyatakan bahwa dividen yang tinggi akan meningkatkan nilai perusahaan yang sering disebut teori relevansi dividen, dan argumen terakhir yang menyatakan bahwa dividen yang rendah yang akan meningkatkan nilai perusahaan.Ditinjau dari kepentingan perusahaan emiten, pendapat yang pertama dan yang ketiga, yaitu bahwa kebijakan dividen tidak relevan dengan nilai perusahaan dan bahwa dividen yang rendah akan meningkatkan nilai perusahaan yang lebih disukai. Hal ini dikarenakan perusahaan tidak perlu mempersiapkan pengeluaran yang tinggi untuk pembayaran dividen, sehingga dividen yang seharusnya dibagikan dapat digunakan untuk modal perusahaan. Di lain pihak ditinjau dari kepentingan pemegang saham, pendapat kedua yang lebih disukai, yaitu dividen dibagikan sekarang, khususnya bagi pemegang saham yang membeli saham untuk kepentingan jangka menengah. Kepentingan jangka menengah yang dimaksud adalah bahwa pemegang saham ingin menikmati hasil dari saham. Di lain pihak bagi pemegang saham yang membeli saham untuk kepentingan jangka panjang, relatif lebih menginginkan pengembangan modal perusahaan, sehingga tidak terlalu menuntut untuk dibagikan dividen. Beberapa perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di bursa efek merupakan perusahaan yang cenderung tetap bertahan dan tidak terlalu terpengaruh dengan keadaan perekonomian. Sehingga diperkirakan perusahaan tersebut mempunyai kinerja keuangan yang cukup baik dan mampu untuk mengeluarkan dividen.



METODOLOGI PENELITIAN

Data yang digunakan adalah data sekunder yang sudah diolah pihak perusahaan dan sudah diterbitkan dalam bentuk laporan keuangan atau dengan kata lain data tersebut tidak didapatkan dari perusahaan melainkan diperoleh melalui Internet dengan alamat situs www.idx.co.id. Data yang diperlukan adalah laporan keuangnan yang berupa neraca, laporan laba / rugi, dan perubahan modal. Dalam penulisan skripsi ini data yang dipakai oleh penulis adalah data sekunder yang diperoleh dari situs www.idx.co.id. Selain itu penulis juga melakukan penelitian kepustakaan dengan mempelajari buku-buku yang berhubungan dengan pokok-pokok pembahasan penulisan skripsi ini.



PEMBAHASAN

Koefisien korelasi antara variabel ROI dan dividen kas adalah 0,537 terdapat hubungan yang positif atau searah. Koefisien korelasi antara variabel cash ratio dan dividen kas adalah -0,240 terdapat hubungan yang negatif atau tidak searah. Koefisien korelasi antara variabel current ratio dan dividen kas adalah -0,216 terdapat hubungan yang negatif atau tidak searah. Koefisien korelasi antara variabel EPS dan dividen kas adalah 0,715 terdapat hubungan yang positif atau searah. Koefisien korelasi antara variabel DPR dan dividen kas adalah 0,882 terdapat hubungan yang positif atau searah. Dari analisis di atas diketahui bahwa dividen kas mempunyai hubungan yang positif dengan variabel EPS dan DPR. Tingkat signifikansi koefisien korelasi current ratio terhadap dividen kas adalah 0,390 berarti korelasi antar variabel tersebut tidak nyata. Tingkat signifikansi koefisien korelasi EPS terhadap dividen kas adalah 0,001 berarti korelasi antar variabel tersebut sangat nyata. Tingkat signifikansi koefisien korelasi DPR terhadap dividen kas adalah 0,000 atau mendekati nol berarti korelasi antarvariabel tersebut sangat nyata. Dari analisis di atas disimpulkan variabel yang mempunyai korelasi sangat nyata, yaitu EPS dan DPR.



KESIMPULAN

Berdasarkan data-data hasil pembahasan sebelumnya, dapat kita tarik beberapa kesimpulan seperti berikut :

Dividen kas mempunyai hubungan yang positif dengan variabel EPS dan DPR. Terdapat hubungan yang positif EPS dan DPR dengan dividen kas. Terdapat hubungan yang negatif antara Return on Investment, cash ratio, dan current ratio dengan dividen kas. Ada hubungan yang positf antara Earning Per Share dan Dividend Payout Ratio dengan dividen kas. Variabel bebas ROI, EPS, DPR, Cash Ratio, dan Current Ratio tidak secara signifikan mempengaruhi variabel terikat secara bersama-sama. Earning per share dan dividend payout ratio berpengaruh secara parsial terhadap dividen kas. Dari uji analisis faktor diketahui bahwa terdapat tiga faktor yang memiliki kontribusi yang besar yaitu Earning Per Share, Dividend Payout Ratio, dan Return on Investment